Kelompok Tenun Nekemese Raup Rp117,3 Juta Dalam Sehari

Nasi, MataTimorPos.com || Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia menjadi momen istimewa bagi anggota Kelompok Tenun motif Buna Nekmese, Desa Nasi, Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

Bagaimana tidak, dalam sehari, produk tenun motif Buna karya tangan para perempuan Desa Nasi diborong pembeli asal Eropa dengan total nilai transaksi mencapai Rp117.300.000.

 

Transaksi tersebut berlangsung di Lumbung (Lopo) Kelompok Tenun motif Buna Nekmese, Desa Nasi, Senin, 17 Agustus 2026. Produk yang dibeli terdiri dari berbagai jenis tenunan motif buna teke (tokek) atoni (manusia) dan motif buna lain, mulai dari selimut, sarung hingga selendang.

 

Ketua Kelompok Tenun motif Buna Nekmese Desa Nasi, Yusmina Tafuli-Linome, mengaku senang sekaligus terharu karena hasil karya para anggota kelompok mendapat perhatian hingga ke pasar International.

 

“Puji Tuhan Yesus Kristus, saya senang dengan kehadiran para tamu melalui Yayasan Uma Nusantara bisa datang membeli karya tangan tenun motif Buna desa yang dihasilkan oleh anggota kelompok tenun Nekmese,” ujar Yusmina kepada MataTimor.com dirumahhnya Selasa, (18/08/2026).

 

 

Menurut Yusmina, pembelian dalam jumlah besar tersebut menjadi peristiwa pertama dalam perjalanan kelompoknya. Produk tenun motif Buna yang selama ini diproduksi secara tradisional baru kali ini diborong dalam satu kali transaksi dengan nilai mencapai ratusan juta rupiah.

 

“Kami senang sebagai kelompok binaan Yayasan Uma Nusantara. Ini baru pertama kali hasil produk tenunan Buna kami diborong satu kali dengan nilai ratusan juta. Dan ini baru kali pertama, selama ini kami produksi biasanya terjual hanya kisaran harga 20-25 juta, tapi kali ini luar biasa”, ungkapnya.

 

Yusmina menjelaskan, tenun Buna merupakan produk asli Desa Nasi Kecamatan Amanatun Utara yang diwariskan leluhur secara turun-temurun. Keaslian motif, teknik pembuatan hingga proses pewarnaannya terus dijaga oleh generasi penerus.

Baca Juga  Yayasan YNS Siap Bangun 100 Unit Hunian Sementara untuk Korban Longsor Kuatae

 

“Hasil tenun Buna ini dari nenek kami, sehingga keasliannya sampai saat ini kami jaga dan lestarikan,” katanya.

 

Bagi Yusmina dan keluarganya, tenun motif Buna bukan sekadar warisan budaya. Kerajinan tersebut juga menjadi sumber pendapatan keluarga sejak tahun 1996 sekaligus aset berharga yang diwariskan leluhur sejak tahun 1982.

 

Ia mengatakan, salah satu alasan produk tenun Buna memiliki nilai jual tinggi adalah proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional, terutama dalam pewarnaan benang menggunakan bahan-bahan alami dari tumbuh-tumbuhan.

 

Untuk menghasilkan satu lembar selimut berukuran besar, seorang penenun bahkan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan.

 

“Yang membuat tenun Buna mahal karena proses pewarnaan alami berbahan dasar tumbuh-tumbuhan dan proses tenun yang membutuhkan waktu dua sampai tiga bulan untuk menghasilkan satu lembar tenun selimut besar,” jelas Yusmina.

 

Selain menggunakan benang hasil pemintalan kapas asli Timor, sebagian produk juga menggunakan benang sutra produksi pabrik. Perpaduan bahan, teknik dan pewarnaan alami membuat tenun Buna memiliki ciri khas tersendiri.

 

“Untuk pewarnaan benang ini, kami masih menggunakan pewarnaan alami sejak turun-temurun dan ajaran sang nenek,” tuturnya.

 

Kecintaan Yusmina terhadap tenun Buna telah tumbuh sejak dirinya masih duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar. Saat itu, sang nenek mulai mengajarinya proses pembuatan tenun, mulai dari mewarnai benang, memintal, menggulung hingga merentangkan benang untuk kemudian ditenun.

 

“Saya tahu tenun sejak duduk di SD kelas 3. Melalui kerajinan seorang nenek, saya belajar mewarnai benang, memintal dan menggulung jadi bola hingga merentangkan benang untuk ditenun sampai hari ini,” katanya.

 

Selain tenun Buna, Yusmina juga mempelajari teknik tenun ikat atau futus serta teknik lompat lungsi atau sotis/lotis. Namun, hingga kini, teknik yang paling dominan ia kerjakan adalah tenun lilit atau Buna dengan mempertahankan pewarnaan alami.

Baca Juga  Blivo Supermarket Resmi Hadir di Kota Soe, Hadirkan Konsep Belanja Modern Terlengkap

 

Ia berharap, dengan kunjungan ini terus berlanjut sehingga hasil produksi tenun motif Buna oleh anggotanya tetap menjadi primadona yang diminati pembeli International dan dalam negeri.

 

Sementara itu, Koordinator Kelompok Tenun Buna Nekmese, Jemi Linome, menjelaskan produk yang dibeli para tamu terdiri dari selimut, sarung dan selendang dengan harga yang bervariasi.

 

Menurut Jemi, produk tenun buna yang terjual paling banyak adalah selimut besar dengan harga tertinggi mencapai sekitar Rp11 juta per lembar, sementara produk dengan harga terendah sekitar Rp200 ribu berupa selendang.

 

“Tamu yang kemarin datang belanja rata-rata selimut dengan harga tertinggi sebelas juta per lembar hingga terendah Rp200 ribu, tapi itu selendang,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, salah satu produk lama dengan ukuran sekitar 2,20 meter juga terjual dengan harga Rp9 juta.

Pembelian tersebut menjadi angin segar bagi para penenun Desa Nasi.

 

Selain memberikan pemasukan langsung kepada anggota kelompok, transaksi tersebut menunjukkan bahwa karya tradisional masyarakat Timor memiliki nilai ekonomi sekaligus daya tarik bagi pasar internasional.

 

Adapun anggota kelompok yang produknya terjual dalam transaksi tersebut antara lain: Yusmina Linome – Rp20.900.000, Yohana Tafuli – Rp21.900.000, Erni Satriana Letuna – Rp20.300.000, Lodia Nabu – Rp2.700.000.

 

Ermelinda Binsasi – Rp2.000.000, Sipora Linome – Rp20.000.000, Orance Banu – Rp10.000.000, Aksamina Banu – Rp8.000.000, Fenti Banu – Rp11.300.000, Yosinta Tafuli – Rp200.000. Total nilai transaksi dari hasil tenun para anggota tersebut mencapai Rp117.300.000.

 

Bagi para penenun Nekmese, transaksi ini bukan hanya soal nilai rupiah. Lebih dari itu, pembelian tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap warisan leluhur yang selama ini mereka rawat melalui tangan-tangan perempuan Desa Nasi.

No More Posts Available.

No more pages to load.