SoE, MataTimorPos.com || Momentum Hari Raya Iduladha dimanfaatkan Komunitas Majelis Ngaji Santri Abangan bersama Yayasan Torikuljana untuk menebar kepedulian dan memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat. Pada pelaksanaan kurban hari pertama, Rabu (27/5/2026), panitia memotong 15 ekor sapi dan 1 ekor kambing yang kemudian dibagikan kepada masyarakat dalam 485 paket daging kurban.
Dari total hewan kurban tersebut, dua ekor sapi disalurkan ke wilayah Niki-Niki dan dua ekor lainnya ke Kapan sebagai bentuk pemerataan bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Pembina komunitas, Catur Hendra Iriawan, menjelaskan bahwa Komunitas Majelis Ngaji Santri Abangan hadir sebagai wadah pembinaan sosial dan keagamaan bagi kalangan yang selama ini merasa kurang mendapat perhatian dan pendampingan di lingkungan masyarakat.
Komunitas yang beranggotakan sekitar 45 orang itu berada di bawah naungan Yayasan Torikuljana yang telah mengantongi izin resmi sejak tahun 2024.
“Awalnya kami melihat ada banyak orang yang merasa dikucilkan atau tidak dirangkul. Karena itu kami hadir untuk mengajak mereka bersama-sama dalam kegiatan positif, menebar kebaikan, dan membangun kebersamaan,” ujar Catur.
Ia mengatakan, anggota komunitas berasal dari berbagai latar belakang kehidupan, mulai dari anak jalanan, mantan pemabuk, hingga mereka yang pernah terlibat perkelahian. Namun, melalui pendekatan kekeluargaan dan komunikasi yang intensif, mereka perlahan dibina untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
“Tantangan terbesar adalah bagaimana merangkul anak-anak muda ini dengan sabar. Harus sering berkomunikasi dan mendampingi mereka. Kalau tidak ada komunitas yang membina, mereka bisa kehilangan arah,” katanya.
Menurutnya, pendekatan yang digunakan komunitas lebih menitikberatkan pada rasa kekeluargaan dan kebersamaan tanpa membedakan latar belakang seseorang.
Selain kegiatan sosial, komunitas tersebut juga rutin menggelar kegiatan mengaji setiap malam Minggu sebanyak dua kali dalam sebulan. Kegiatan itu dikemas secara santai melalui konsep “ngopi” atau ngobrol pintar sehingga para anggota merasa nyaman untuk berdiskusi, belajar, dan saling menguatkan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa semua orang punya sisi baik. Tinggal bagaimana kita mau merangkul dan memberi ruang bagi mereka untuk bertumbuh,” tambahnya.
Komunitas Majelis Ngaji Santri Abangan juga aktif membangun kolaborasi dengan masyarakat di wilayah Nunumeu sebagai bentuk pembauran sosial dan toleransi antarwarga.
Melalui kegiatan kurban dan pembinaan sosial tersebut, komunitas berharap dapat terus menghadirkan semangat persaudaraan, toleransi, dan kepedulian di tengah masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan. (MH/ST)















