Tulisan untuk Sang Ibu, Casis TNI AD Ini Sentuh Hati Dandim 1621/TTS

TTS, MataTimorPos.com|| Di tengah seleksi calon prajurit TNI AD di Makodim 1621/Timor Tengah Selatan (TTS), sebuah tulisan sederhana di tas peserta menarik perhatian.

Tulisan itu bukan tentang keberhasilan atau kemenangan, melainkan ungkapan tekad seorang anak yang ingin membanggakan ibunya melalui perjuangan menjadi prajurit TNI AD.

Pemilik tas cokelat itu adalah Yogi Fernandes Banamtuan, 21 tahun, pemuda asal Desa Oehan, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Saat mengikuti proses seleksi calon siswa (Casis), Yogi membawa tas bertuliskan pesan emosional yang menggambarkan keberanian menghadapi kegagalan demi mengejar cita-cita dan harapan keluarga.

Pada tas tersebut tertulis kalimat yang menyentuh hati, sekaligus menggambarkan besarnya cinta seorang anak kepada ibunya di tengah perjuangan meraih masa depan.

“Untuk Mama… Doakan saja anakmu ini, Mama. Soal gagal dan mati itu urusanku dengan Tuhan.” kutipan tulisan ditas milik Yogi Banamtuan.

Kalimat itu pun kemudian menarik perhatian Komandan Kodim 1621/TTS, Letkol Czi Ari Setiawan Wibowo, yang berhenti sejenak untuk membaca tulisan tersebut dengan saksama.

Setelah membaca pesan itu, Dandim menghampiri Yogi dan merangkulnya sebagai bentuk dukungan moral kepada calon prajurit yang sedang memperjuangkan cita-citanya.

Bagi Letkol Czi Ari Setiawan Wibowo, tulisan tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan tekad seorang anak untuk membanggakan orang tuanya.

Baca Juga  Polres TTS Mulai Selidiki Dugaan Korupsi Dana Desa Nakfunu, Kades Diperiksa

“Di antara banyak peserta, anak ini memiliki cara yang berbeda untuk menyemangati dirinya sendiri. Ia tidak banyak bicara, tetapi isi tasnya berbicara tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta kepada orang tua,” ujar Letkol Czi Ari Setiawan Wibowo.

Menurut Dandim, menjadi prajurit TNI AD tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga membutuhkan mental tangguh dan semangat pantang menyerah.

“Saya melihat semangat juangnya luar biasa. Tidak semua orang berani menuliskan isi hatinya seperti itu,” ujar Dandim.

Ia menilai tulisan tersebut menunjukkan bahwa Yogi datang mengikuti seleksi dengan membawa harapan keluarga, terutama ibunya, yang menjadi bagian penting dalam perjuangannya.

“Tulisan itu menunjukkan bahwa ia datang membawa harapan keluarga, terutama ibunya. Semangat seperti ini harus dijaga, karena prajurit sejati lahir dari hati yang tulus dan tekad yang kuat,” ungkap Dandim.

Dandim kemudian memberikan motivasi kepada Yogi agar tetap percaya diri, menjaga semangat, serta mengikuti setiap tahapan seleksi dengan kesungguhan hingga proses tersebut berakhir.

“Jangan pernah menyerah hanya karena satu kegagalan. Teruslah berusaha, berdoa, dan hormati orang tua. Hasil akhir memang ditentukan oleh Tuhan, tetapi perjuangan adalah pilihan kita,” pesan Dandim.

Ia juga mengingatkan Yogi bahwa keberanian bermimpi dan kesediaan berjuang merupakan bagian penting dari perjalanan seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Baca Juga  Dandim 1621/TTS Bersama Anggota Laksanakan Sholat Idul Adha di Masjid Agung Al Ikhlas Soe

“Apa pun hasilnya nanti, kamu sudah membuktikan bahwa kamu adalah anak yang berani bermimpi dan berjuang,” tambahnya.

Momen Dandim 1621/TTS merangkul Yogi turut menarik perhatian anggota TNI dan peserta seleksi lainnya yang berada di kompleks Makodim 1621/TTS.

Pesan sederhana pada tas tersebut menjadi pengingat bahwa di balik setiap peserta seleksi, terdapat kisah perjuangan, doa keluarga, dan harapan untuk masa depan.

Ada anak yang ingin mengangkat derajat orang tuanya, ada yang bercita-cita mengabdi kepada negara, dan ada pula yang membawa semangatnya melalui tulisan sederhana.

Kisah Yogi Banamtuan memperlihatkan bahwa perjuangan mengejar cita-cita tidak selalu ditunjukkan melalui kata-kata lantang, tetapi terkadang hadir melalui pesan kecil yang menyimpan makna mendalam.

Bagi orang lain, tulisan itu mungkin hanya tinta di atas kain, tetapi bagi seorang ibu, pesan tersebut dapat menjadi ungkapan cinta dan harapan anaknya.

Sementara bagi Yogi, tulisan itu menjadi pengingat tentang alasan dirinya berjuang, menghadapi ketidakpastian, dan terus melangkah meskipun hasil seleksi belum diketahui.

Di Makodim 1621/TTS, kisah tersebut menghadirkan pelajaran tentang kasih sayang kepada orang tua, keberanian menghadapi kegagalan, dan pentingnya dukungan dalam perjuangan meraih cita-cita.***

No More Posts Available.

No more pages to load.