Atoin Meto Jangan Kehilangan Jati Diri! Bupati TTS Buka Festival Budaya 2026

TTS, MataTimorPos.Com || Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Eduard Markus Lioe, S.IP., S.H., M.H., secara resmi membuka Festival Budaya Daerah se-Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2026, Selasa (20/10/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga 29 Oktober 2026 ini dipusatkan di Jalan Basuki Rahmat, tepatnya di depan Kantor BPBD Kabupaten TTS.

Pembukaan festival dihadiri Wakil Bupati TTS, Ketua DPRD TTS, unsur Forkopimda, Penjabat Sekretaris Daerah, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Nusa Tenggara Timur, Balai Bahasa NTT, pimpinan perangkat daerah, kepala sekolah dan guru pendamping, panitia dan juri, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, seniman, budayawan, peserta didik, orang tua, serta masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa Buce Lioe itu menegaskan bahwa Festival Budaya Daerah bukan sekadar kegiatan seremonial atau hiburan, melainkan bentuk komitmen bersama untuk merawat tradisi, memperkuat identitas daerah, dan membangun generasi muda yang berbudaya.

“Festival ini bukanlah sekadar sebuah seremoni atau tontonan hiburan semata. Lebih dari itu, festival ini adalah wujud nyata dari komitmen kita bersama untuk merawat tradisi, menguatkan identitas, dan membangun generasi muda berbudaya,” ujar Buce.

Menurutnya, di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang berkembang pesat, masyarakat TTS menghadapi tantangan untuk mempertahankan jati diri sebagai Atoin Meto. Karena itu, pelestarian budaya lokal perlu menjadi tanggung jawab bersama agar nilai-nilai warisan leluhur tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Budaya adalah jiwa kita. Jika budaya hilang, maka hilang pula identitas kita,” tegasnya.

Buce menyampaikan tiga pesan penting melalui penyelenggaraan festival tersebut. Pertama, masyarakat diajak untuk terus merawat tradisi dan tidak malu menggunakan kain tenun TTS, menampilkan tarian adat, maupun menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten TTS akan terus memberikan ruang dan dukungan bagi upaya pelestarian budaya lokal.

Baca Juga  Bupati TTS Lantik 66 Penjabat Kades, Tekankan Disiplin dan Percepatan Pembangunan Desa

Kedua, penguatan identitas budaya harus dipandang sebagai bagian dari pembangunan daerah. Menurut Buce, kain tenun ikat TTS memiliki potensi ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan mama-mama penenun sekaligus mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain itu, tarian tradisional, musik daerah, dan kampung adat dapat dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah.

Ia juga mengingatkan pentingnya mempertahankan nilai-nilai budaya seperti natoni, sopan santun, gotong royong, dan saling menghormati untuk memperkuat kerukunan serta kehidupan sosial masyarakat.

Ketiga, Buce secara khusus mengajak generasi muda TTS untuk mengambil peran aktif dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.

Ia berharap generasi muda mampu mengikuti perkembangan teknologi dan modernisasi tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi identitas masyarakat TTS.

“Saya tidak ingin budaya kita hanya tinggal di museum dan di buku sejarah. Saya ingin budaya kita hidup di tangan kalian, di gerakan tarian kalian, dan di hati kalian. Jadilah generasi muda yang modern, pintar teknologi, tetapi tetap berakar kuat pada budaya,” pesannya.

Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS, seluruh panitia, serta pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam menyelenggarakan festival tersebut.

Ia berharap Festival Budaya Daerah dapat terus berkembang dari tahun ke tahun, semakin berkualitas, serta dikenal lebih luas, tidak hanya di Nusa Tenggara Timur, tetapi juga di tingkat nasional hingga internasional.

Mengakhiri sambutannya, Buce secara resmi menyatakan Festival Budaya Daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2026 dibuka, dengan mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Identitas, Membangun Generasi Muda Berbudaya.”

Baca Juga  Benih Jagung Tak Sesuai RAB dan Gagal Tumbuh, Warga Pene Selatan Desak Penggantian

Sementara itu, Ketua Panitia, Okran K.R. Betty, S.Hut., yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS, dalam laporannya menjelaskan bahwa festival tersebut diselenggarakan sebagai upaya menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kekayaan tradisi daerah.

Ia menjelaskan bahwa Kabupaten TTS memiliki kekayaan budaya yang beragam, mulai dari seni pertunjukan, adat istiadat, permainan tradisional, hingga hasil karya seni dan kuliner khas daerah.

Namun, perkembangan teknologi informasi dan derasnya arus budaya luar menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan tradisi lokal, terutama di kalangan generasi muda.

Menurutnya, festival ini dirancang bukan hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi, apresiasi, dan penguatan kebudayaan agar nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap dikenal serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Penyelenggaraan kegiatan tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Adapun kegiatan festival mencakup berbagai perlombaan seni dan budaya bagi pelajar tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), di antaranya lomba tarian Bonet, tarian Maekat, tarian kreasi, serta komedi tunggal atau stand-up comedy menggunakan bahasa Dawan.

Melalui kegiatan tersebut, panitia berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap budaya lokal, melestarikan warisan leluhur, mempererat persatuan, menumbuhkan minat dan bakat generasi muda di bidang seni budaya, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Berdasarkan laporan panitia, sebanyak 236 peserta terlibat dalam Festival Budaya Daerah Kabupaten TTS Tahun 2026.

No More Posts Available.

No more pages to load.