TTS, MataTimorpos.com|| Di tengah keterbatasan yang nyaris tak terbayangkan, semangat pendidikan tetap menyala di Desa Fatuoni, Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejak dibuka pada 18 Juli 2024 sebagai kelas jauh dari SD Negeri Oana, kegiatan belajar mengajar bagi puluhan anak berlangsung di sebuah lumbung sederhana yang jauh dari standar kelayakan ruang pendidikan.
Bangunan darurat itu bukan sekolah sebagaimana mestinya.
Dindingnya terbuka, tiangnya sederhana, dan atapnya tak mampu sepenuhnya menahan hujan maupun terpaan angin. Namun di tempat itulah harapan masa depan anak-anak pelosok tetap diperjuangkan setiap hari.
Sebanyak 28 siswa sekolah dasar terdiri dari 13 siswa kelas 1, 8 siswa kelas 2, dan 7 siswa kelas 3, bersama 20 anak PAUD, menimba ilmu dalam kondisi serba terbatas. Tanpa meja belajar yang memadai, tanpa ruang kelas permanen, serta tanpa jaminan kenyamanan saat musim hujan datang.
Melalui pesan WhatsApp yang diterima awak media pada Jumat (27/02/2026), seorang guru honorer SD Negeri Oana mengungkapkan realitas pahit yang mereka jalani sejak sekolah tersebut dibuka.
“Sekolah ini mulai dibuka sebagai kelas jauh sejak Juli 2024. Awalnya ada PAUD dan SD. Sampai sekarang kami masih belajar di lumbung,” ungkapnya dengan nada lirih.
Selama hampir dua tahun, proses belajar berlangsung di bawah kondisi yang memprihatinkan. Saat hujan turun, air merembes masuk melalui celah bangunan. Buku pelajaran terancam basah, papan tulis harus dipindahkan, sementara guru dan murid hanya bisa bertahan sembari menunggu cuaca membaik.
Suara anak-anak mengeja huruf dan berhitung kerap bercampur dengan deru angin yang menerobos masuk ke dalam lumbung. Situasi tersebut perlahan menghadirkan tekanan mental bagi para tenaga pengajar.
Namun keinginan melihat anak-anak tetap bersekolah membuat mereka memilih bertahan.
Memasuki tahun 2025, enam guru PAUD dan SD mengambil keputusan besar. Tanpa proposal bantuan dan tanpa kepastian dukungan pemerintah, mereka sepakat mengumpulkan dana pribadi sebesar Rp200 ribu per orang untuk membeli kayu dan membangun pilar ruang belajar sederhana.
Langkah itu menjadi titik awal lahirnya bangunan sekolah swadaya masyarakat.
Kepala SD Negeri Oana turut memberikan dukungan dengan menyumbangkan lima sak semen dan satu ret pasir untuk pembangunan fondasi empat ruang kelas.
Para guru kemudian bergotong royong memasang rangka bangunan hingga atap. Masing-masing guru menyumbangkan lima lembar seng, sementara orang tua siswa ikut berpartisipasi dengan memberikan satu lembar seng per keluarga.
Perjuangan tersebut bukan sekadar membangun ruang belajar, tetapi membangun harapan bagi generasi masa depan desa terpencil itu.
Memasuki tahun 2026, aktivitas belajar mulai dipindahkan ke bangunan baru hasil swadaya. Dua ruang kelas telah memiliki atap, sementara dua ruangan lainnya masih terbuka karena keterbatasan material seng.
Ironisnya, seluruh proses pendidikan itu dijalankan tanpa gaji.
“Kadang kami berpikir untuk berhenti. Tapi pendidikan anak-anak lebih penting. Kami bekerja dengan tulus dan ikhlas. Kami tidak menuntut bayaran, hanya berharap suatu saat ada perhatian pemerintah,” tutur guru tersebut.
Dedikasi para guru di Fatuoni menjadi gambaran nyata wajah pendidikan di pelosok TTS di mana pengabdian sering kali berjalan lebih cepat daripada kehadiran negara.
Di sudut Amanatun Utara, para guru tidak menunggu bantuan turun begitu saja. Mereka bergerak dengan tenaga, biaya, dan hati sendiri demi memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan.
Namun perjuangan itu sejatinya tidak layak dipikul sendirian.
Harapan mereka sederhana: kehadiran nyata Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan melalui pembangunan gedung sekolah permanen, pengangkatan tenaga guru, serta jaminan kesejahteraan bagi para pendidik yang selama ini mengabdi tanpa kepastian.
Sebab di balik lumbung yang bocor di Desa Fatuoni, tersimpan mimpi besar anak-anak TTS mimpi untuk belajar dengan layak, bermartabat, dan setara dengan anak-anak di daerah lainnya.















