Solo, MataTimorPos.com || Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan dan literasi Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Pegiat literasi asal TTS, Lefinus Asbanu, berhasil meraih Juara 2 Tingkat Nasional dalam ajang Sosialisator Program Literasi Nasional yang diumumkan pada rangkaian Festival Literasi Nasional 2026.
Festival Literasi Nasional berlangsung selama dua hari, Jumat hingga Sabtu, 22–23 Mei 2026, di Hotel Paragon Solo, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut diikuti oleh guru, peserta didik, mahasiswa, jurnalis, dan pegiat literasi dari berbagai daerah di Indonesia sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat budaya literasi nasional.
Dalam pengumuman hasil lomba, Juara 1 diraih oleh Jemima Mulyandari dari Provinsi Bali, sementara Juara 3 diraih Ahmad Amali Kurniawan dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Keberhasilan Lefinus Asbanu menempati posisi kedua menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten TTS dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Usai menerima penghargaan, Lefinus Asbanu yang akrab disapa Lenso menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada sejumlah sekolah yang selama ini memberikan ruang bagi pengembangan budaya literasi.
“Pada prinsipnya saya menyampaikan terima kasih kepada tiga sekolah, yakni SD Inpres Taubneno, SD GMIT SoE II, dan SD Negeri Oekamusa, karena telah membuka ruang untuk mengembangkan potensi guru dan peserta didik melalui karya tulis,” ujar Lefinus.
Menurutnya, budaya menulis hingga menghasilkan karya dalam bentuk buku masih tergolong langka di Kabupaten TTS. Namun, langkah tersebut sangat penting untuk membangun ekosistem literasi yang sehat di lingkungan sekolah.
“Untuk menulis hingga menghasilkan karya dalam bentuk buku di TTS ini masih sangat langka. Sebagai pegiat literasi TTS, tujuan utama sesungguhnya bukan hanya semata menghasilkan buku, tetapi melalui langkah tersebut ekosistem literasi sekolah dapat berjalan dengan baik,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kemampuan menghasilkan karya tulis merupakan indikator penting bahwa seseorang telah mencapai tingkat pemahaman yang baik terhadap apa yang dibacanya.
“Guru maupun peserta didik yang mampu menghasilkan karya tulis sesungguhnya tingkat membacanya sudah pada tahap pemahaman. Karena untuk mengetahui seseorang paham akan apa yang dia baca, ada beberapa aspek yang bisa diuji. Selain mampu menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri, pemahaman itu juga bisa dituangkan dalam bentuk tulisan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Lefinus menilai bahwa memberikan ruang kepada peserta didik dan guru untuk menulis berarti membuka peluang bagi mereka untuk membangun mimpi dan masa depan yang lebih besar.
“Ketika mereka mampu menuangkan gagasan dalam tulisan, sesungguhnya kita telah membuka ruang kepada mereka untuk terus bermimpi lebih jauh ke depan,” tambahnya.
Prestasi yang diraih Lefinus di tingkat nasional diharapkan menjadi motivasi bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten TTS untuk lebih serius mengembangkan budaya membaca dan menulis sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan.
“Saya berharap sekolah-sekolah lain juga memiliki ambisi yang sama untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui karya tulis. Literasi bukan hanya tentang membaca, tetapi juga tentang bagaimana melahirkan gagasan dan karya yang bermanfaat bagi banyak orang,” pungkasnya.

















