Persoalan JUT Tuapakas Berujung Damai, Warga Diminta Buka Hati Demi Akses Dusun Terisolasi

KUALIN, MataTimorPos.com || Persoalan pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) yang bersumber dari Pokok Pikiran (Pokir) DPRD di Desa Tuapakas, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yang sebelumnya dipersoalkan oleh masyarakat Dusun III, akhirnya menemui titik terang.

Setelah sempat menimbulkan persoalan di tengah masyarakat, kedua pihak sepakat menyelesaikannya melalui mediasi yang digelar pada Kamis, 3 September 2026.

Mediasi tersebut dipandu Ketua FKPM Desa Tuapakas, Danial Bonat, dan dihadiri Camat Kualin Wilhelmus Nabunome, Kapolsek Kualin Ipda Diknas N.W. Aoliso, S.H., Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Djami Alunpah, Penjabat Kepala Desa Tuapakas Yafet Upu, serta sejumlah tokoh adat dari Dusun III dan Dusun IV.

Dalam pertemuan itu, pemerintah kecamatan menekankan pentingnya mengedepankan kepentingan masyarakat dan mencari solusi bersama agar pembangunan JUT dapat dilanjutkan.

Camat Kualin, Wilhelmus Nabunome, mengatakan mediasi dilakukan untuk menyelesaikan persoalan pembangunan JUT secara bersama-sama.

“Hari ini kita melakukan mediasi terkait dengan pembangunan jalan usaha tani yang ada di Desa Tuapakas. Kita sama-sama duduk di sini untuk menyelesaikan persoalan ini, karena tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan kalau kita duduk bersama,” ujarnya.

Menurut Wilhelmus, penyelesaian persoalan tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat, terutama warga Dusun III yang selama ini mengalami keterbatasan akses akibat belum tersedianya jalan yang memadai.

“Saya yakin dan percaya bahwa apa yang kita buat hari ini akan menjadi momentum dan juga suatu hal besar untuk bagaimana membantu saudara-saudara kita yang berada di Dusun III yang selama ini terisolasi karena jalan belum ada,” katanya.

Ia berharap kesepakatan yang telah dicapai menjadi dasar untuk melanjutkan pekerjaan JUT hingga tuntas.

“Hari ini kita sama-sama sepakati untuk bagaimana melanjutkan pekerjaan ini, karena tinggal sedikit. Mudah-mudahan sebentar bisa terselesaikan,” lanjutnya.

Sementara itu, Kapolsek Kualin, Ipda Diknas N.W. Aoliso, S.H., mengajak seluruh masyarakat untuk membuka hati dan mengesampingkan perbedaan demi kepentingan pembangunan desa.

“Mari kita membuka hati untuk sama-sama kita membangun kampung ini, karena kalau bukan kita yang membangun, siapa lagi?” tegasnya.

Baca Juga  Perkembangan Teknologi dan Dampaknya terhadap Kehidupan Masyarakat

Menurutnya, pembangunan desa tidak dapat hanya mengandalkan pihak luar. Masyarakat setempat memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan wilayahnya sendiri.

“Tidak mungkin orang luar datang membangun kampung kita. Kita sendiri yang melihat kampung kita ini. Marilah kita sama-sama menyelesaikan persoalan ini dengan kepala dingin, karena bapak dan mama yang akan menikmati hasil dari pembangunan ini,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk membangun dan memajukan wilayahnya.

“Yang membangun kampung kita ini siapa? Kita sendiri. Yang menentukan majunya tempat kita, kita sendiri. Oleh karena itu, dari kemarin kita sudah bicara dan saya sudah bilang persoalan kita ini kecil. Tetapi kalau kita melihat persoalannya besar, maka ini tidak akan terselesaikan,” pungkasnya.

 

Dalam kesempatan yang sama, Pendeta Marita E. Sihapas, yang juga adalah ketua majelis wilayah tuapakas turut mengajak masyarakat untuk melihat pembangunan jalan sebagai sebuah kesempatan dan berkat yang dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.

Ia mengatakan, persoalan akses jalan merupakan pergumulan yang dialami banyak masyarakat di berbagai wilayah. Karena itu, ketika pembangunan jalan telah mulai dilakukan, masyarakat diharapkan dapat menyikapinya dengan bijaksana.

“Bapak-mama, yang namanya jalan, semua orang punya pergumulan untuk mendapatkan akses jalan sampai ke kampung. Ternyata ada hal-hal yang terjadi di tanah kita, karena tanah itu juga menjadi media tempat jalan ini dibangun,” ujarnya.

Menurut Marita, kehadiran alat berat, material, serta berbagai pihak yang mendukung pembangunan merupakan bagian dari kesempatan yang perlu dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.

“Ini berkat. Ada alat berat, material, dan orang-orang yang mendukung sampai di tanah kita. Namun, ternyata di atas tanah yang kita tempati ini ada masalah, baik antara bapak dan anak maupun antara keluarga,” katanya.

Dirinyapun pun mengajak masyarakat untuk tidak membiarkan persoalan tersebut menghambat pembangunan yang manfaatnya akan dirasakan bersama.

“Saya hanya minta kepada kita semua, seperti yang waktu saya di kantor desa juga saya bilang. Kalau berkat itu ada, jangan kita tolak. Mari kita buka hati untuk bijaksana menerima segala sesuatu yang ada,” tuturnya.

Baca Juga  How to keep pets clean

Pendeta Marita juga meminta masyarakat untuk merendahkan ego dan menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

“Dengan merendahkan ego dan segala macam hal yang mungkin terjadi di atas tanah ini, supaya apa yang telah ada di tengah-tengah kita bisa menjadi berkat dan masuk sampai di kampung-kampung yang ada,” kata Marita

Ia mengakui bahwa setiap pembangunan yang bertujuan baik tidak selalu berjalan tanpa persoalan. Namun, menurutnya, persoalan tersebut harus diselesaikan dengan hati yang terbuka.

“Memang pasti akan menimbulkan persoalan. Yang namanya hal baik, pasti ada persoalan yang terjadi. Karena itu, saya hanya minta kita semua, khususnya keluarga Taneo saat ini, mari dengan hati yang ingin berdamai, kita sama-sama meminta maaf satu sama lain,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tanah pada akhirnya merupakan titipan Tuhan dan seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memberikan manfaat bagi banyak orang.

“Kalau kita mau telusuri sejarah, pasti kita akan bilang bahwa tidak ada yang memiliki tanah ini secara mutlak. Semua ini Tuhan yang punya. Hanya bagaimana tanah ini bisa menjadi berkat bagi banyak orang, mari kita sama-sama bergandengan tangan,” ujarnya.

Khusus kepada keluarga Taneo dan seluruh masyarakat yang hadir dalam mediasi tersebut, Pendeta Marita mengajak agar semua pihak merendahkan hati dan mengutamakan perdamaian.

“Karena itu mari kita bergandengan tangan, terkhususnya keluarga Taneo dan semua yang hadir hari ini. Sebagai rumpun keluarga dalam keluarga Taneo, saya minta kita semua rendahkan hati,” pungkasnya.

Dengan tercapainya kesepakatan melalui mediasi tersebut, pembangunan JUT di Desa Tuapakas diharapkan dapat kembali dilanjutkan tanpa persoalan yang berlarut-larut.

Pembangunan jalan tersebut tidak hanya diharapkan membuka akses bagi masyarakat Dusun III yang selama ini mengalami keterbatasan mobilitas, tetapi juga mendukung aktivitas pertanian serta membuka peluang bagi peningkatan perekonomian masyarakat setempat.

No More Posts Available.

No more pages to load.