Tinggal di Gubuk Tepi Pantai Selama 8 Tahun, Doa Keluarga Kikhau Dijawab YNS

KOLBANO, MataTimorPos. Com – Selama delapan tahun, Oscar Kikhau dan Lodia Malkus bersama tiga anak laki-laki mereka bertahan hidup di sebuah gubuk kecil di tepi Pantai Kolbano, Desa Kolbano, Kecamatan Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Tidak memiliki rumah layak huni membuat ketiga anak mereka bahkan harus menumpang mandi di rumah Ketua RT ketika hendak berangkat ke sekolah.

Keluarga yang berdomisili di RT 012/RW 006 itu hidup dalam keterbatasan. Gubuk yang menjadi tempat tinggal mereka beratapkan daun gewang dengan dinding yang berlubang-lubang. Dalam kondisi tertentu, salah satu dari mereka bahkan harus tidur di rumah tetangga.

Kondisi tersebut akhirnya mendapat perhatian dari Yusinta Nenobahan, Founder Yayasan YNS. Perempuan yang dikenal sebagai salah satu srikandi Timor berdarah Mollo itu mengunjungi langsung keluarga Oscar dan Lodia pada Minggu, 27 September 2026, didampingi suaminya, Aldy Syarief.

Kunjungan tersebut bermula ketika seorang Ketua RT menyampaikan kondisi warganya kepada Yusinta. Sang RT menceritakan bahwa ada keluarga yang selama bertahun-tahun belum memiliki rumah dan terpaksa membangun sebuah gubuk kecil di pinggir pantai sebagai tempat tinggal bersama tiga anak mereka.

Mendengar cerita tersebut, Yusinta bersama suaminya langsung merespons dan meminta untuk melihat kondisi keluarga tersebut secara langsung.

Setibanya di lokasi, Yusinta mendapati Oscar Kikhau dan Lodia Malkus bersama ketiga anak mereka berada di dalam gubuk sederhana yang menjadi tempat tinggal keluarga tersebut.

Yusinta kemudian duduk bersama keluarga itu dan berbincang dari hati ke hati.

“Jadi kalian tidak punya rumah? Dan sudah berapa lama tinggal di sini?” tanya Yusinta.

Baca Juga  YNS Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di RT 01 Kelurahan Danga, Nagekeo

Sang ibu kemudian menjawab bahwa mereka telah tinggal di tempat tersebut selama delapan tahun.

“Sudah 8 tahun kami tinggal di sini dan kami tidak punya rumah,” jawab Lodia.

Keluarga tersebut sebenarnya sedang berusaha memiliki tanah sendiri. Mereka masih mencicil sebidang tanah milik seorang tokoh adat dengan ukuran sekitar 10 x 15 meter. Namun, karena cicilan tanah tersebut belum lunas, keluarga ini belum mampu membangun rumah yang layak.

Mendengar kisah tersebut, Yusinta tampak tersentuh. Ia kemudian menyampaikan niatnya untuk membantu keluarga tersebut memiliki rumah.

“Nanti saya bantu buatkan rumah untuk keluarga ini, karena kasihan. Di sini ada tiga anak sekolah, dan juga ada anak yang sudah beranjak dewasa. Kasihan mereka tinggal di gubuk kecil ini dengan ayah dan ibu mereka,” ujar Yusinta dengan suara bergetar.

Kepada ketiga anak tersebut, Yusinta juga memberikan pesan agar mereka tetap semangat bersekolah dan menyayangi kedua orang tua.

“Harus semangat dan sayang Mama dan Bapa. Kalian harus jadi orang, supaya nanti pulang ketika sudah besar, sudah bisa bantu Bapa dan Mama,” pesannya.

“Nanti Ibu bantu buatkan rumah buat kalian bertiga, karena ini berkat kalian yang Tuhan titip melalui Ibu,” lanjutnya.

Menurut Yusinta, kondisi yang dialami keluarga tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi anak-anak untuk kehilangan semangat dalam mengejar pendidikan.

Baca Juga  YNS : Perempuan Timor Harus Bantu Perempuan Timor

“Kalian harus semangat, harus sayang orang tua, karena tidak semua anak di luar sana yang harus bertahan hidup seperti kalian,” katanya.

“Nanti Ibu buatkan rumah, supaya bisa belajar di rumah sendiri dan tidak numpang lagi di rumah Bapak RT,” sambung Yusinta.

Namun, perhatian Yusinta tidak hanya tertuju kepada ketiga anak tersebut. Ia juga memberikan penghargaan kepada sang ibu yang selama bertahun-tahun tetap merawat dan mendampingi anak-anaknya dalam kondisi serba terbatas.

“Terima kasih ya, sudah merawat anak-anak dengan baik sehingga mereka tetap bersyukur punya orang tua seperti Ibu dan Bapa,” ucapnya.

Yusinta menyebut ketiga anak tersebut sebagai anak bangsa yang membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama.

“Mereka anak bangsa yang harus kita tolong. Apalagi dengan tempat tinggal, bahkan mandi saja harus numpang di Bapak RT, tetapi mereka masih tetap semangat untuk bersekolah,” ujar Yusinta dengan suara bergetar.

Usai mendengar langsung kondisi keluarga tersebut, Yusinta kemudian berkoordinasi dengan pemerintah setempat melalui Ketua RT untuk menindaklanjuti kebutuhan keluarga Oscar dan Lodia.

Ia meminta agar proses pelunasan cicilan tanah keluarga tersebut dengan pihak keluarga Sabuna dapat segera dikoordinasikan sehingga pembangunan rumah layak bagi keluarga tersebut dapat dilakukan.

Dengan mata berkaca-kaca, sang ibu menyampaikan terima kasih kepada Yusinta dan suaminya atas kepedulian yang diberikan kepada keluarganya.

No More Posts Available.

No more pages to load.