24 Jam Menanti Dokter, Nyawa Warga Tetaf Tak Terselamatkan

SoE, MataTimorPos.com || Seorang pasien, Yahya Kause, warga Desa Tetaf, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dikabarkan meninggal dunia akibat dugaan kelambanan petugas medis di UGD Puskesmas Tetaf.

Korban dikabarkan meninggal setelah menunggu lebih dari 24 jam tanpa mendapatkan penanganan medis dari dokter di Puskesmas Tetaf.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, pasien tiba di Puskesmas Tetaf pada 05/05/2026, dalam kondisi membutuhkan pertolongan segera. Namun, saat berada di ruang UGD, hanya ada satu petugas yang berjaga. Sementara dokter tidak berada di tempat, sehingga penanganan medis dilakukan melalui konsultasi via telepon dan video.

Kemarahan keluarga pasien atas lambatnya penanganan ini sempat membuat suasana di Puskesmas menjadi tegang, setelah pihak keluarga terus mendesak agar pasien diberikan surat rujukan sehingga dapat dibawa ke RSUD SoE guna menjalani perawatan medis.

Menurut pengakuan keluarga korban, awalnya pasien mengalami sakit pada bagian perut yang menyebabkan kembung dan diare. Keluarga kemudian memutuskan membawa pasien ke Puskesmas Tetaf untuk berobat.

Setibanya di Puskesmas Tetaf, pasien tidak mendapat penanganan, bahkan tidak ada tindakan medis karena dokter puskesmas tidak berada di tempat. Keluarga yang mendampingi pasien kemudian meminta agar pasien dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) SoE, namun pihak puskesmas menahan pasien dengan alasan akan dilakukan observasi selama 24 jam.

Pada keesokan harinya, keluarga kembali mendesak agar pasien diberi rujukan. Pihak Puskesmas akhirnya memberikan surat rujukan sehingga pasien dibawa ke RSUD SoE pada 06/05/2026 guna mendapatkan pelayanan medis lanjutan.

Sejumlah saksi yang berada di lokasi menuturkan bahwa pasien dirujuk bersamaan dengan seorang pasien melahirkan dari Desa Enoneontes. Kedua pasien tersebut dirujuk menggunakan satu ambulans milik Puskesmas Tetaf.

Baca Juga  Polres TTS Mulai Selidiki Dugaan Korupsi Dana Desa Nakfunu, Kades Diperiksa

Lebih lanjut, keluarga korban menuturkan bahwa setibanya di RSUD SoE, kondisi pasien sudah sangat kritis sehingga pihak IGD RSUD SoE terpaksa merujuk pasien ke Kupang.
Setelah tiba di halaman parkir Rumah Sakit Ben Mboi, Kupang, pasien akhirnya meninggal dunia pada Rabu (06/05/2026).

Istri korban, Emi Faomnasi, yang ditemui di rumah duka di wilayah Neke, Desa Tetaf, mengungkapkan kekecewaannya atas lambatnya penanganan oleh Puskesmas Tetaf.

“Kalau saja malam itu ada dokter di puskesmas dan langsung kasih rujukan, mungkin suami saya masih bisa tertolong,” ujar Emi.

Peristiwa meninggalnya pasien ini dinilai mencoreng wajah Puskesmas Tetaf sebagai salah satu badan layanan umum.
Terkait peristiwa tersebut, pihak keluarga menuturkan akan menempuh upaya hukum setelah almarhum dikebumikan.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Tetaf, Alfred Benu, saat dikonfirmasi pada Rabu (13/05/2026), membenarkan adanya dua pasien dalam satu ambulance.

“Terkait adanya dua pasien dalam satu ambulans itu memang benar. Setiap pasien yang harus dirujuk mesti mendapatkan ACC dari UGD. Jadi, setelah UGD memberikan ACC, barulah kami bisa melakukan rujukan,” jelas Alfred.

Ia menjelaskan, saat itu terdapat dua pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan, yakni seorang ibu hamil dengan diagnosis abortus atau keguguran dan seorang pasien di UGD dengan keluhan lambung.

Baca Juga  Bergerak Bersama Putuskan Penularan Hepatitis: Seruan Aksi Nyata dari NTT

Menurutnya, berdasarkan pemeriksaan awal, kedua pasien belum masuk kategori gawat darurat sehingga rujukan direncanakan dilakukan keesokan harinya.

“Namun, dini hari sekitar pukul 02.00 hingga 03.00, pasien di ruang bersalin tiba-tiba mengalami pendarahan dan tensinya drop. Sementara pasien di UGD juga mengalami nyeri hebat di bagian perut sehingga keduanya masuk kategori gawat darurat,” ungkapnya.

Alfred menambahkan, tenaga medis kemudian melakukan konsultasi dengan dokter kandungan dan pihak UGD rumah sakit melalui telepon dan video.

“Pihak rumah sakit sempat meminta video klinis pasien. Setelah video dikirim, UGD akhirnya memberikan ACC rujukan berdasarkan kondisi klinis pasien,” katanya.

Menurut Alfred, ACC rujukan baru diterima sekitar pukul 06.25. Namun saat itu ambulance masih berada di Desa Enoneontes untuk mengantar pasien lain. Ambulans baru tiba kembali di Puskesmas Tetaf sekitar pukul 06.40 dan pasien langsung dirujuk sekitar pukul 07.00 pagi.

Terkait dugaan kelambanan penanganan medis, Alfred membantah pihaknya tidak memberikan pelayanan kepada pasien.

“Kalau soal dugaan kelambanan petugas medis, saya rasa tidak demikian karena kami tetap memberikan pelayanan. Pasien saat itu juga masih dalam kondisi stabil, sudah diobservasi, diberikan obat, dan dilakukan tindakan medis lainnya. Kondisi nyeri hebat baru muncul sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 dini hari,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.