TTS, MataTimorpos.com|| Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi menggelar Kursus Wasit Sepak Bola C3 Tahun 2026 yang berlangsung pada 15 hingga 20 Juni 2026 dan dipusatkan di Aula Hotel Grand Soe, Senin (15/6/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam membangun regenerasi wasit sepak bola berkualitas di wilayah NTT, sekaligus menjawab kebutuhan akan minimnya tenaga perwasitan yang mampu memimpin kompetisi di tingkat daerah maupun provinsi.
Sebanyak 24 peserta mengikuti kursus tersebut yang berasal dari lima kabupaten, yakni Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, dan Kabupaten Rote Ndao. Dari jumlah tersebut, 14 peserta berasal dari TTS dan 10 peserta berasal dari luar Kabupaten TTS.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua PSSI TTS yang juga Wakil Ketua DPRD TTS, Arsianus J. Nenobahan, Wakil Ketua DPRD TTS, Yoksan Benu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) TTS, Wilgo Nenometa, Instruktur Teknis Anthonius Rismiaji, serta Instruktur Kebugaran Iwan Sukodju.
Ketua Panitia, Erick Ataupah, dalam laporannya menjelaskan bahwa profesi wasit memiliki peran yang sangat vital dalam menjaga jalannya pertandingan agar berlangsung adil, tertib, dan sesuai dengan aturan permainan.
Menurutnya, seorang wasit dituntut memiliki kemampuan teknis, pemahaman regulasi, serta ketahanan mental dan psikologis yang kuat.
“Pergerakan wasit hampir mirip dengan gelandang tengah dalam permainan sepak bola. Namun, seorang wasit memiliki beban psikologis yang jauh lebih besar karena harus mengambil keputusan di bawah tekanan pemain maupun situasi pertandingan,” jelas Erick.
Ia menambahkan, seorang wasit harus selalu berada dekat dengan bola agar dapat mengambil keputusan secara tepat dan meyakinkan.
Selain itu, seorang wasit wajib memahami secara menyeluruh Laws of the Game (LOTG) yang terdiri dari 17 pasal dan mampu mengaplikasikannya secara konsisten saat memimpin pertandingan.
“PSSI Kabupaten Timor Tengah Selatan memandang pembinaan wasit sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar hasil sesaat, tetapi membangun karakter, disiplin, dan profesionalisme,” ujarnya.
Melalui Kursus Wasit C3 ini, peserta diharapkan mampu menjadi wasit profesional yang memiliki integritas tinggi.
Beberapa target utama yang ingin dicapai antara lain:Memiliki lisensi resmi Wasit C3,
mampu memimpin pertandingan di tingkat kabupaten/kota, kompetisi internal, dan kelompok umur, menegakkan peraturan permainan secara adil dan konsisten, menguasai teknik dasar perwasitan, penempatan posisi, pergerakan, serta kerja sama dengan asisten wasit.
Ketua PSSI TTS, Arsianus J. Nenobahan, mengungkapkan bahwa minimnya jumlah wasit asal TTS yang bertugas di level provinsi menjadi salah satu alasan utama pelaksanaan kursus tersebut.
Dirinya mengakui bahwa TTS belum mampu berkontribusi maksimal dalam sejumlah ajang sepak bola bergengsi di NTT.
“Kegiatan ini sebenarnya direncanakan sejak bulan Mei, namun karena bertepatan dengan bulan puasa, baru dapat dilaksanakan pada Juni ini. Fakta yang terjadi, TTS masih sangat kekurangan wasit untuk memimpin pertandingan di tingkat provinsi. Bahkan pada Eltari Cup di Ende dan Soeratin Cup, TTS belum berkontribusi secara maksimal,” kata Arsianus.
Ia juga menegaskan bahwa kursus saja tidak cukup. Para peserta harus diberikan kesempatan untuk menambah jam terbang melalui kompetisi yang akan digelar di TTS.
“Dalam waktu dekat akan ada kompetisi U-10 dan U-13. Selain itu, ada agenda tahunan seperti Bupati Cup dan Gerindra Cup. Ini akan menjadi momentum bagi para peserta untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat. Sebab, percuma mengikuti pelatihan jika tidak diberi kesempatan memimpin pertandingan secara langsung,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati TTS yang diwakili oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga TTS, Wilgo Nenometa, secara resmi membuka kegiatan Kursus Wasit C3.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 akan menjadi momentum besar bagi NTT, termasuk Kabupaten TTS.
“Pada tahun 2028 akan dilaksanakan PON dengan tema PON Nusa Tenggara karena diselenggarakan di dua provinsi, yakni NTT dan NTB. Sebanyak 62 cabang olahraga akan dipertandingkan dan NTT mendapatkan 22 cabang olahraga, salah satunya sepak bola yang akan dilaksanakan di Kabupaten Timor Tengah Selatan,” jelas Wilgo.
Dirinya berharap seluruh elemen olahraga, termasuk wasit, dapat mempersiapkan diri sejak sekarang untuk mendukung suksesnya penyelenggaraan PON tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa profesi wasit memiliki dasar hukum yang kuat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, khususnya Pasal 69 yang menyebutkan bahwa wasit merupakan bagian dari tenaga keolahragaan nasional.
Sedangkan, Iwan Sukodju sebagai Instruktur Kebugaran menekankan pentingnya pembinaan wasit sejak tingkat daerah sebagai bagian dari misi besar PSSI Indonesia.
Dia mengungkapkan bahwa hingga kini Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mencetak wasit yang mampu memimpin pertandingan di Piala Dunia.
“Saat berada di Jakarta tahun lalu, Departemen Perwasitan PSSI menyampaikan agar daerah-daerah aktif membina wasit karena tugas PSSI sangat berat. Sampai sekarang Indonesia belum memiliki wasit yang memimpin pertandingan Piala Dunia. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh peserta mengikuti kursus dengan sungguh-sungguh.
“Wasit membutuhkan mental yang luar biasa. Fondasi dasar sangat penting karena dari kegiatan ini akan lahir regenerasi yang lebih baik. Selama ini, kontribusi wasit dari TTS di tingkat Asprov sangat minim, bahkan nyaris tidak ada. Padahal, dulu TTS pernah memiliki banyak wasit yang aktif,” ujarnya.
Kursus Wasit C3 Tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang peningkatan kapasitas sumber daya manusia, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam membangun masa depan sepak bola Timor Tengah Selatan.
Dengan semakin banyaknya wasit berlisensi yang lahir dari daerah, TTS diharapkan tidak hanya mampu menjadi tuan rumah berbagai kompetisi, tetapi juga menjadi salah satu lumbung penghasil wasit profesional yang dapat berkiprah di tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional.
#Lifa_Kafoni

















