Direktur RSUD Soe Akui Insiden Ruang Melati, Sampaikan Permohonan Maaf

Soe – MataTimorPos.com || Pihak manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Soe akhirnya angkat bicara terkait peristiwa yang terjadi di Ruang Melati pada Kamis (05/02/2026).

Melalui Humas RSUD Soe, Anis Tode, Menjelaskan bahwa, Direktur rumah sakit membenarkan adanya kejadian tersebut sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga pasien apabila cara penyampaian petugas menimbulkan rasa tidak nyaman.

Klarifikasi itu disampaikan Anis Tode kepada awak media di ruang kerjanya, jumat (13/02/2026), setelah dirinya diperintahkan langsung oleh Direktur RSUD Soe untuk memberikan penjelasan resmi.

“Direktur RSUD Soe menyuruh saya untuk melakukan klarifikasi dengan rekan-rekan media karena di rumah sakit ada Persatuan Humas Rumah Sakit Indonesia, dan untuk RSUD Soe itu menjadi tanggung jawab saya.

Namun bukan berarti menutup kemungkinan untuk berkomunikasi langsung dengan beliau,” ujar Anis.

Anis Tode juga menjelaskan, pada pagi hari sebelum memberikan klarifikasi, dirinya telah memanggil Kepala Ruang Melati, Anita Nuban, bersama seluruh staf yang bertugas saat kejadian. Dari hasil pertemuan tersebut, pihak ruangan membenarkan bahwa peristiwa sebagaimana diberitakan memang terjadi.

Menurut Anis, manajemen tidak menutup-nutupi fakta dan mengakui bahwa insiden tersebut benar terjadi di Ruang Melati.

Mewakili manajemen rumah sakit, Anis menyampaikan permohonan maaf kepada mama Marta Tefa apabila merasa dipermalukan atau diperlakukan tidak adil.

Baca Juga  Ruas Jalan Vital di TTS Terancam Putus, DPRD Minta Pemprov NTT Proaktif

“Pada prinsipnya begini, kalau memang Mama merasa bahwa hal tersebut mempermalukan beliau dan dirasakan tidak adil, maka kami, termasuk saya yang mewakili rumah sakit, menyampaikan permohonan maaf,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa tidak ada niat dari petugas untuk mempermalukan keluarga pasien. Namun, ia mengakui bahwa persepsi setiap orang terhadap cara penyampaian bisa berbeda.

“Jika memang komunikasi kami yang kurang tepat, kami mohon maaf dan akan memperbaikinya. Sekali lagi, kejadian itu benar terjadi, namun tidak ada maksud untuk menyakiti atau mempermalukan beliau,” tegasnya.

Terkait inti persoalan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah di ruang perawatan, Anis menjelaskan bahwa rumah sakit mengacu pada aturan yang berlaku, termasuk Keputusan Menteri Lingkungan.

Dia menegaskan bahwa sampah di rumah sakit wajib dipisahkan antara limbah medis dan nonmedis karena memiliki mekanisme pengelolaan berbeda. Limbah medis, kata dia, tidak bisa dikelola sembarangan di lokasi, melainkan harus dikemas dan dikirim sesuai prosedur.

“Setiap pasien baru selalu diberikan sosialisasi terkait aturan di RSUD, termasuk pengelolaan sampah. Jika pasien dewasa, sosialisasi diberikan kepada pasien dan keluarga. Jika pasien anak, maka kepada keluarganya,” jelasnya.

Namun demikian, pihaknya tidak dapat memastikan apakah Mama Marta Tefa mengikuti sosialisasi tersebut atau tidak.

Baca Juga  Disorot Publik, Buce Lioe Pastikan Optimalisasi Lahan TTS Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

Dirinya juga memaparkan bahwa dalam setiap pergantian shift dilakukan proses handover atau serah terima tugas antarpetugas. Dalam proses itu terdapat pengawasan, termasuk oleh petugas Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI).

Menurut keterangan staf ruangan, Mama Marta telah menjaga anaknya selama satu minggu di Ruang Melati sehingga diasumsikan sudah mengetahui aturan yang berlaku.

“Biasanya petugas juga mendapat teguran jika menemukan sampah medis yang tercampur, karena sampah medis itu dikemas dan dikirim, tidak bisa dikelola di sini. Jika ditemukan sampah yang bercampur, petugas di ruangan juga mendapat teguran,” tambahnya.

Ia menambahkan, berdasarkan penjelasan Kepala Ruangan, maksud teguran kepada keluarga pasien saat itu adalah agar sampah dipindahkan menggunakan kantong plastik, bukan dengan tangan kosong, demi alasan keamanan dan standar kebersihan.

Pihak ruangan, lanjut Anis, juga telah menyampaikan permohonan maaf secara internal atas cara penyampaian yang mungkin dianggap menyinggung.

Menurutnya, teguran tersebut dimaksudkan sebagai pembelajaran bagi pasien dan pengunjung lain agar mematuhi aturan pemilahan sampah di rumah sakit. Namun ia mengakui bahwa komunikasi yang kurang empatik bisa menimbulkan kesalahpahaman.

“Persepsi setiap orang berbeda-beda terhadap cara penyampaian. Jika memang komunikasi kami kurang tepat, kami akan memperbaikinya,” tegasnya

#Lifakafony

No More Posts Available.

No more pages to load.