Soe – MataTimorPos.com|| Polemik insiden di Ruang Melati RSUD Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), belum berakhir. Setelah pihak rumah sakit menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf melalui perwakilan direktur, Anis Tode, orang tua pasien, Marta Tefa, menyatakan tetap menolak permintaan maaf tersebut karena menilai isi klarifikasi tidak sesuai dengan kejadian yang ia alami.
Pernyataan itu disampaikan Marta Tefa pada Jumat (13/02/2026), menanggapi klarifikasi RSUD terkait peristiwa yang terjadi pada Kamis (05/02/2026).
“Saya sudah membaca pemberitaan klarifikasi yang sudah disampaikan Rumah Sakit Umum Daerah Soe. Namun ada beberapa poin yang menurut saya tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan apa yang saya alami sendiri. Karena itu saya tetap akan menindaklanjuti persoalan ini,” ujar Marta Tefa.
Marta Tefa pun menyampaikan permohonan maaf kembali kepada pihak RSUD, namun secara pribadi tidak dapat menerima permintaan maaf tersebut.
Ia menyoroti sikap salah satu petugas medis bernama Anita Nuban yang menurutnya tidak bijak dalam menangani situasi saat itu.
“Kalau memang ibu Anita Nuban seorang pegawai dan bidan yang tentu lebih mengerti dari saya, seharusnya bisa bersikap lebih bijak. Saat kejadian saya sudah memohon maaf sampai tiga kali, tetapi tidak diterima. Saya justru disuruh cepat-cepat mengangkat dan membongkar kembali tempat sampah yang sudah penuh dengan banyak kotoran di dalamnya,” tuturnya.
Dirinya menilai, apabila permintaan maafnya saat itu diterima, persoalan kemungkinan tidak akan melebar. Namun karena terjadi di depan banyak orang, termasuk keluarga pasien lain, ia merasa sangat terpukul.
“Mereka sempat berkata ‘Mama tidak usah angkat’, tetapi saya memberi isyarat supaya diam saja. Saya sangat sakit hati karena pada usia 63 tahun saya diperlakukan seperti itu. Apakah beliau lebih baik dari saya atau kita sama-sama manusia?” katanya.
Menurutnya, saat itu bahkan dipanggil seorang petugas laki-laki untuk melihat dirinya.
“Saya dengar dipanggil, ‘Pak datang lihat ini mama karena dia sudah salah simpan.’ Meski begitu saya tetap diperintahkan membongkar sampah dari atas sampai ke bawah,” jelasnya.
Dia juga mempertanyakan waktu teguran yang dinilai tidak langsung diberikan saat kejadian.
“Kalau memang salah, kenapa tidak langsung ditegur saat pukul 11.00? Kenapa harus menunggu sampai sekitar pukul 14.00 baru saya dipanggil dan disuruh bongkar kembali? Itu yang saya tidak terima,” ujarnya.
Terkait aturan kebersihan rumah sakit, Marta mengaku memahami pentingnya aturan. Namun ia menegaskan tidak pernah menerima penjelasan sebelumnya dari petugas.
“Saya sudah mendampingi cucu saya sejak tanggal 3 dan 4. Pada tanggal 5 sekitar pukul 11.00 saya diperlakukan seperti itu. Saya bongkar sampah tanpa sarung tangan dan beliau berkata ‘ayo cepat bongkar’. Setelah semua terjadi baru ada permintaan maaf dan saya tidak bisa menerimanya,” katanya.
Ia juga membantah bahwa dirinya pernah diarahkan menggunakan alat pelindung.
“Jangan dijadikan alasan saya sudah diberi penjelasan, karena saya benar-benar tidak pernah menerima penjelasan apa pun. Saya datang sekitar pukul 10.00 dan kejadian pukul 11.00. Kalau memang harus pakai masker atau sarung tangan, seharusnya disampaikan dari awal,” tegasnya.
Meski menolak permintaan maaf, Marta menyatakan tetap menghormati pihak RSUD Soe dan menyampaikan permohonan maaf kepada Anis Tode. Namun ia berharap persoalan diselesaikan secara tuntas dan adil.
“Saya hanya seorang petani, sedangkan beliau ASN dan tentu lebih pintar dari saya. Tapi kenapa saat melihat tempat sampah penuh tidak ditegur saat itu juga, malah menunggu lalu menyuruh saya bongkar dari atas sampai ke bawah. Itu sangat menyakitkan hati seorang ibu,” pungkasnya.

















