Tak Sekadar Hiburan Pentas Seni, PGSD IPS Soe Bentuk Karakter dan Kompetensi Calon Guru

TTS, MataTimorpos.com || Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Institut Pendidikan Soe (IPS) menggelar Pentas Seni Mahasiswa dengan tema “Membumi dengan Budaya, Melangit dengan Kreativitas”, yang di selenggarakan di kampus IPS Soe, Jumat (24/1/2026).

Kegiatan ini berlangsung meriah dan penuh makna sebagai ruang ekspresi seni sekaligus penguatan kompetensi mahasiswa calon guru sekolah dasar.

Pentas seni ini diikuti oleh 9 kelompok mahasiswa tarian seni, yang menampilkan berbagai pertunjukan bernuansa budaya lokal dan kreativitas modern. Setiap kelompok tampil dengan konsep yang matang, menonjolkan kekompakan, ekspresi, serta kreativitas yang kuat.

Berdasarkan pantauan langsung MataTimorpos.com, kegiatan tersebut turut dihadiri oleh pimpinan Institut Pendidikan Soe, yakni Wakil Rektor II, Greet S. Daniel, M.Pd, Wakil Rektor III, Yusak I. Bien, M.Pd, Ketua Program Studi PGSD, Tri Buce J. Banu, M.Pd, serta Ketua Pelaksana Kegiatan, Melifera Yani Makleat, M.Si.

 

Sementara itu, dewan juri yang menilai penampilan peserta terdiri dari Dian S. Nenoliu, M.Pd, Melifera Y. Makleat, M.Si, dan Erna S. Sabuna, M.Pd.

Ketua Pelaksana Pentas Seni, Melifera Y. Makleat, M.Si, kepada MataTimorpos.com saat di wawancarai menjelaskan bahwa,kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pembekalan keterampilan bagi mahasiswa sebagai calon pendidik, khususnya guru sekolah dasar.

“Kegiatan yang kami laksanakan hari ini berangkat dari kesadaran bahwa menjadi guru sekolah dasar bukanlah hal yang mudah. Guru SD dituntut memiliki kemampuan yang beragam atau multi-talenta, tidak hanya mengajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mampu bernyanyi, menari, bermain musik, serta memiliki keterampilan seni lainnya,” ujar Melifera Makleat.

Baca Juga  PSI Fokus Bantu Anak Tidak Mampu di NTT, 1.762 Anak Terdata Penerima Bantuan Pendidikan

Ia juga menjelaskan, pembekalan ini sangat relevan dengan pengalaman mahasiswa saat menjalani Kuliah Praktik Lapangan (KPL), di mana mereka dituntut mampu mengajar berbagai mata pelajaran, termasuk seni budaya.

Sebagai bagian dari proses pembelajaran, sebelum puncak pentas seni dilaksanakan, mahasiswa terlebih dahulu dibekali dengan teori seni tari, seni drama, dan seni musik selama kurang lebih dua pertemuan. Selanjutnya, mahasiswa dibagi ke dalam kelompok untuk berlatih secara mandiri sesuai minat dan kemampuan masing-masing, hingga menampilkan karya terbaik mereka pada puncak kegiatan.

“Kegiatan pentas seni ini juga merupakan bagian dari penilaian Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah seni di kelas B dan kelas C. Kami berharap teori yang diperoleh dapat diwujudkan dalam bentuk gerak, ekspresi, kekompakan, dan kreativitas di atas panggung,” tambah wanita yang berprofesi sebagai Dosen itu

Dirinya juga menjelaskan bahwa dana kegiatan bersumber dari dana kegiatan Himpunan Program Studi PGSD yang terintegrasi dalam kegiatan kemahasiswaan, serta dukungan partisipasi mahasiswa demi kelancaran kegiatan.

Baca Juga  Polres TTS Mulai Selidiki Dugaan Korupsi Dana Desa Nakfunu, Kades Diperiksa

Lebih lanjut, tema “Membumi dengan Budaya, Melangit dengan Kreativitas” dipilih sebagai refleksi nilai kearifan lokal. Tema ini mengingatkan bahwa di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, sehingga mahasiswa diharapkan mampu melestarikan budaya Timor Tengah Selatan melalui karya-karya kreatif yang bernilai edukatif.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Rektor, para Wakil Rektor, dan Ketua Program Studi PGSD atas dukungan penuh sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Besar harapan kami, pentas seni ini menjadi bekal berharga bagi mahasiswa sebagai calon guru SD di masa depan,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Institut Pendidikan Soe, Yusak I. Bien, M.Pd, saat membuka kegiatan pentas seni menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa dan panitia atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Yusak Bien menegaskan bahwa pentas seni bukan sekadar ajang hiburan, melainkan bagian penting dari proses pembentukan karakter, kreativitas, dan profesionalisme mahasiswa sebagai calon pendidik.

“Guru masa depan harus kreatif, inovatif, dan berakar pada budaya lokal. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar mengekspresikan diri, bekerja sama, dan menghargai nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

#lifakafony

No More Posts Available.

No more pages to load.